terjemahkan

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Translate

Tampilkan postingan dengan label manajemen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label manajemen. Tampilkan semua postingan

27.12.11

Pengertian Dan Masalah Yang Timbul Oleh Inflasi

Pengertian Dan Masalah Yang Timbul Oleh Inflasi
Selain inflasi dan pertumbuhan output, pengangguran sangat tinggi yang pernah melanda Amerika Serikat pada tahun 1930-an merupakan masalah yang menjadi perhatian utama ilmu ekonomi makro. Perekonomian ideal yang diinginkan oleh banyak negara adalah bila laju inflasi dan pengangguran rendah, sedangkan pertumbuhan output adalah tinggi. Namun, dalam kenyataan yang terjadi adalah tidak seperti yang diinginkan, tetapi saling meniadakan (trade off). Kita ketahui bahwa semua peristiwa makro adalah saling berkaitan dan berhubungan, bila masalah satu diperbaiki maka akan muncul masalah baru lain sebagai efek dan perbaikan tersebut.
Inflasi merupakan salah satu penyakit makro yang selalu menjadi perhatian pengambil kebijakan ekonomi. Mengapa demikian? Karena masalah inflasi sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat. Suatu pemerintahan dapat dikatakan gagal, bila tidak mampu mengatasi masalah inflasi.
Inflasi didefinisikan sebagai kenaikan harga secara keseluruhan yang berlangsung terus-menerus. Sebenarnya inflasi tidak selalu buruk, asalkan masih berada pada tingkat yang aman. Inflasi menjadi bermasalah dan harus segera diatasi bila laju inflasinya tinggi. Karena, inflasi yang tinggi menyebabkan daya beli masyarakat terhadap barang dan jasa menjadi turun. Indonesia pernah mengalami masa suram perekonomian pada saat tahun 1965, dimana terjadi hiper-inflasi. Laju inflasi pada waktu itu sebesar 650%, berarti harga-harga naik lebih dari enam kali lipat dalam kurun waktu satu tahun.
Penyebab inflasi sangat beragam, oleh sebab itu pengambil kebijakan harus tahu persis apa akar permasalahan yang menyebabkan kenaikan pada harga barang dan jasa. Untuk kurun 1990-an, beberapa pengamat menilai dan merumuskan berbagai faktor penyebab inflasi diantaranya adalah devaluasi, kenaikan gaji pegawai negeri, kenaikan harga BBM dan kenaikan harga listrik.
Kenaikan gaji adalah harapan bagi setiap pegawai. Mengapa demikian? Dengan kenaikan gaji diharapkan kesejahteraan pegawai meningkat lebih baik. Namun, efek kenaikan gaji tidak semanis yang diharapkan banyak orang, karena yang akan dilakukan oleh mereka adalah meningkatkan konsumsi. Peningkatan konsumsi terhadap barang dan jasa berarti mendorong inflasi dan misi permintaan, dan yang sudah seringkali terjadi, bahwa kenaikan pendapatan tersebut diiringi oleh kenaikan harga yang terkadang secara presentase lebih besar dari kenaikan pendapatan. Akibatnya kebijakan menaikkan gaji pegawai hanya menaikkan pendapatan secara nominal namun secara ril sebenarnya menjadi lebih miskin, karena termakan oleh inflasi.
Dampak Yang Ditimbulkan Oleh Inflasi
Inflasi tidak selalu berdampak buruk bagi perekonomian. Inflasi yang terkendali justru dapat meningkatkan kegiatan perekonomian. Berikut ini adalah akibat-akibat yang ditimbulkan Inflasi terhadap kegiatan ekonomi masyarakat.
1.Dampak Inflasi terhadap Pendapatan
Inflasi dapat mengubah pendapatan masyarakat. Perubahan dapat bersifat menguntungkan atau merugikan. Pada beberapa kondisi (kondisi infasi lunak), inflasi dapat mendorong parkembangen ekonomi. Inflasi dapat mendorong para pengusaha memperluas produksinya. Dengan demikian, akan tumbuh kesempatan kerja baru sekaligus bertambahnya pendapatan seseorang. Namun, bagi masyarakat yang berpenghasilan tetap Inflasi akan menyebabkm mereka rugi karena penghasilan yang tetap itu jika ditukarkan dengan barang dan jasa akan semakin sedikit. Untuk lebih jelasnya, perhatikan ilustrasi berikut! Sebelum infiasi, orang yang menerima penghasilan Rp 100.000 dapat membeli 100 kg beras seharga Rp 1000,00 per kg. Karna inflasi, maka harga beras yang semula naik, menjadi Rp 1.250,00 per kg. Oleh karena nilai beli uang Rp 100.000,00 jika ditukarkan dengan beras kini hanya menjadi 80 kg. Dari ilustrasi tersebut, diketahui ada penurunan nilai tukar sebesar 20 kg (100 kg — 80 kg). Sebaliknya, orang yang berutang akan beruntung. Anggaplah seorang petani mempunyai utang Rp100.000,00. Sebelum Inflasi, petani itu harus menjual beras 100 kg untuk membayar utangnya. Tetapi setelah inflasi harga beras menjadi Rp 1.250,00 per kg, sehingga petani tersebut cukup menjual 80 kg untuk membayar utangnnya sebesar Rp 100.000,00.
2. Dampak Inflasi terhadap Ekspor
Pada keadaan Inflasi, daya saing untuk barang ekspor berkurang. Berkurangnya daya saing terjadi karena harga barang ekspor makin mahal. Masi dapat menyulitkan para eksportir dan negara. Negara mengalami kerugian karena daya saing barang ekspor berkurang, yang mengakibatkan jumlah penjualan berkurang. Devisa yang diperoleh juga semakin kecil.
3.Dampak Inflasi terhadap Minat Orang untuk Menabung
Pada masa inflasi, pendapatan rill para penabung berkurang karena jumlah bunga yang diterima pada kenyataannya berkurang karena laju Inflasi. Misalnya, bulan Januari tahun 2006 seseorang menyetor uangnya ke bank dalam bentuk deposit dalam satu tahun. Deposito tersebut menghasilkan bunga sebesar, misalnya, 15% per tahun. Apabila tingkat Inflasi sepanjang Januari 2006 — Januari 2007 cukup tinggi, katakanlah 11%, maka pendapatan dari uang yang didepositokan tinggal 4%. Minat orang untuk membung akan berkurang.

readmore »»  

20.12.11

manajemen piutang

MANAJEMEN PIUTANG


Pada umumnya perusahaan menjual hasil produksinya secara kredit, kemudian melahirkan piutang dagang; penagihan piutang melahirkan kas. Hubungan antara piutang dengan kas adalah sebagai berikut:

 Kas                     Persediaan Barang Jadi                               Piutang                          Kas


Besarnya investasi dalam piutang ditentukan oleh: (1)volume penjualan kredit, (2)syarat pembayaran kredit, makin longgar atau makin lunak syarat kredit makin besar piutang dagang, (3)kemampuan mengumpulakan atau menagih piutang, (4)karakter pengutang atau debitur.

Pertimbangan pemberian kredit didasarkan pada: (1)character, yaitu karakter para manajemen perusahaan pengutang, (2)capacity, yaitu kemampuannya atau kesanggupan membayar perusahaan pengutang, (3)capital, yaitu kondisi posisi keuangan perusahaan pengutang,(4)collateral, yaitu harta perusahaan pengutang yang dijadikan jaminan,(5)condition, yaitu kondisi ekonomi, sosial, politik, dan bisnis. Tetapi sebenarnya pemberian kredit dalam dunia bisnis adalah kepercayaan. Jika perusahaan kehilangan kepercayaan dari partner bisnisnya, ia kehilangna kesempatan berbisnis.

1.       Perputaran Piutang (Receivable Turnover)

Piutang sebagai unsure modal kerja dalam kondisi berputar, yaitu dari kas, proses komoditi, penjualan, piutang, kembali ke kas. Makin cepat perputaran piutang makin baik kondisi keuangan perusahaan. Perputaran piutang (receivable turnover) dapat disajikan dengan perhitungan: penjualan bersih secara kredit dibagi rata-rata piutang. Kemudian 360 hari dibagi perputaran piutang menghasilkan hari rata-rata pengumpulan piutang (average collection period of accounts receivable). Pernyataan itu dapat disajikan dalam bentuk rumus sebagai berikut:

                                            Penjualan Bersih
Perputaran piutang  =                                                =  .…. X
                                       Rata-Rata Piutang
      
                                                                    360 hari
Rata-Rata Pengumpulan Piutang  =                                                        =  …… hari
                                                   Perputaran Piutang

Misalnya PT ABC Corporation  memiliki informasi mengenai penjualan tahun 2000 sebesar Rp 200 dan tahun 2001 sebesar Rp 180; piutang awal tahun 2001 Rp 40 dan akhir tahun Rp 60, sedangkan piutang awal tahun 2001 Rp 50 dan akhir tahun Rp 30. Perputaran piutang dan rata-rata pengumpulan piutang dapat disajikan dalam tabel 6.1.


Tabel 6.1.
Perputaran Piutang dan Rata-Rata Pengumpulan Piutang

Keterangan
Tahun 2000
Tahun 2001
Penjualan Bersih
Piutang Awal Tahun
Piutang Akhir Tahun
Rata-rata Piutang (Average Receivable)
(Rp 40 + Rp 60) / 2
(Rp 50 + Rp 30) / 2
Perputaran Piutang (Receivable Turnover)
(Rp 200 / Rp 50)
(Rp 180 / Rp 40)
Rata-rata Pengumpulan Piutang
(Average Collection Period)
(Rp 200 / 4)
(Rp 180 / 6)
Rp  200
Rp    40
Rp    60

Rp    50


   4 kali



 50 hari
Rp  180
Rp    50
Rp    30

Rp    40


   6 kali



 30 hari

Hari Rata-rata pengumpulan piutang adalah sangat penting, makin lama makin buruk bagi kas perusahaan, dan sebaliknya. Perputaran piutang yang tinggi sangat baik bagi perusahaan, karena investasi dalam piutang rendah dan sebaliknya.

Cara lain untuk menentukan perputaran piutang dan rata-rata pengumpulan piutang dapat disajikan dengan ilustrasi berikut ini. PT ABC Corporation memiliki nilai penjualan per tahun Rp 180, seluruhnya dijual kredit 30 hari, dengan ketentuan, jika pembayaran dilakukan dalam waktu 10 sejak tanggal penjualan, diberikan potongan tunai 2 %, model ini lazim  disebut 2/10, net 30. Dari jumlah tersebut, 60 % dibayar dalam waktu 10 hari, dan sisanya  dalam waktu 30 hari. Berdasarkan informasi tersebut dapat dihitung:
1)       Jangka Waktu Penagihan (Day Sales Oustanding atau DSO) atau Periode Penagihan Rata-rata (Average Collection Period atau ACP) adalah: 0,60(10) + 0,40(30) = 18 hari.  
2)       Penjualan Harian Rata-rata (Average Daily Sales atau ADS), dengan asumsi satu tahun 360 hari kerja: (Rp 180 / 360) = Rp 0,50
3)       Piutang PT ABC Coraporation sepanjang tahun setiap saat sebesar: (Jangka Waktu Penagihan X Penjualan Harian Rata-rata) = (18 hari X Rp 0,50) = Rp 9.
4)       Perputaran Piutang  = (Penjualan / Piutang) = (Rp 180 / Rp 9) = 20X
5)       Periode Penagihan Rata-rata = (360 hari / Perputaran Piutang) = (360 hari / 20) = 18 hari.
6)       Periode Penagihan Rata-rata atau Jangka Waktu Penagihan dapat dihitung dengan rumus:

                 Piutang Usaha                                                 Rp 9
                                                                             =                                                       = 18 hari
                  (Penjualan / 360 hari)                            (Rp 180 / 360 hari)

Manajer keuangan harus mengetahui penjualan per hari secara kredit dan jumlah rata-rata piutang sepanjang tahun di setiap saat. Dengan mengetahui kedua unsur tersebut, ia dapat mengatur arus kas masuk dari tagihan piutang.



2.       Pengendalian Piutang

Perputaran piutang harus dikendalikan dengan menyusun tabel umur piutang (aging schedule of receivables), di mana dalam tabel tersebut dapat diketahui jumlah piutang yang segera dapat ditagih dan yang lambat ditagih, dan dapat diketahui pengutang atau debitur yang baik dan yang buruk.

Mengelola arus kas masuk dan keluar adalah salah satu tugas pokok bagian keuangan karena semua transaksi bisnis bermuara ke dalam kas. Manajer keuangan pada umumnya mengharapkan penjualan dapat dilakukan dengan tunai, atau kredit dengan waktu yang sesingkat-singkatnya, agar supaya arus kas masuk cepat. Untuk mengelola keuangan perusahaan yang baik, manajer keuangan harus menyusun anggaran pengumpulan piutang yang akan digunakan untuk mengendalikan piutang. Makin panjang umur piutangnya, makin buruk kondisi perusahaan karena makin lama piutang tersebut menjadi uang tunai (kas).

Contoh skedul umur piutang dapat disajikan dalam tabel 6.2, yang terdiri PT ABC Corporation  dan PT ABKHAR. Syarat kredit kedua perusahaan tersebut adalah 2/10/net 30.

Tabel 6.2
Skedul Umur Piutang (Agimg Schedule of Receivable)

Umur Piutang
PT ABC Coraporation
PT ABKHAR
Nilai
Piutang
% Dari Total
Nilai Piutang
Nilai
Piutang
% Dari Total
Nilai Piutang
0-10
11-30
31-45
46-60
di atas 60
Total

640
160
0
0
0
800
80%
20%



100%
400
160
120
80
40
800
50%
20%
15%
10%
5%
   100%

PT ABC Corporation lebih baik daripada PT ABKHAR, karena semua pelanggan membayar tepat waktu 80% pada hari ke 10, dan sisanya 20% membayar pada hari ke 30. Sedangkan PT ABK HAR pelanggannya tidak tepat membayar sesuai dengan perjanjian kredit, 30% yaitu (15% + 10% + 5%) pelanggannya membayar lewat 30 hari dari jatuh tempo. Perusahaan yang baik seyogianya mengikuti manajemen piutang PT ABC Corporation seperti ilustrasi di atas.

Manajer keuangan harus kontrol ketat jangka waktu penagihan dan skedul umur piutang. Kedua unsur itu harus dihubungkan dengan syarat kredit dan kedua unsur itu untuk mengetahui efektifitas bagian penagihan menjalankan tugasnya. Jika jangka waktu penagihan makin panjang dan rasio umur piutang yang melewati jatuh tempo makin besar, maka harus diadakan peninjauan kembali kebijakan penjualan kredit.

3.      Anggaran Pengumpulan Piutang

Pada umumnya perusahaan besar mempunyai banyak pelanggan dengan kredit. Kondisi yang demikian mempengaruhi arus kas perusahaan. Misal, PT ABC Corporation mempunyai penjualan bulan Januari Rp 100, Februari Rp 200, dan Maret Rp 300. Syarat pembayaran ditetapkan 3/20/net 30, 70% pelanggan membayar 20 hari setelah bulan penjualan, 20% pelanggan membayar 10 hari terakhir bulan kesatu sesudah bulan penjualan, dan 10% pelanggan membayar bulan kedua setelah bulan penjualan. Berdasarkan informasi tersebut aggaran pengumpulan piutang dapat disajikan pada tbel 11.3. Rincian perhitungan piutang bulan Februari, Maret, April,adalah sebagai berikut:


Bulan Februari:
o   Pengumpulan piutang bulan Februari 70% X Rp 100 = Rp 70 dikurangi potongan tunai 3% X Rp 70 = Rp 2,10 = Rp 67,90.
o   20% terkumpul dalam waktu 10 hari terakhir, 20% X Rp 100 = Rp 20.
o   Jadi dalam bulan Februari, piutang terkumpul = Rp 67,90 + Rp  20 = Rp 87,90

Bulan Maret:
o   Piutang atas penjualan bulan Januari 10% X Rp 100 = Rp 10
o   Piutang atas penjualan bulan Februari 70% X  Rp 200 = Rp 140, dikurangi 3% X Rp 140 = Rp 4,20 = Rp 135,80
o   Terkumpul dalam waktu 10 hari terakhir, 20% X Rp 200 = Rp 40
o   Jadi dalam bulan Maret, piutang terkumpul = Rp 10 + Rp 135,80 + Rp 40 = Rp 185,80

Bulan April:
o   Piutang atas penjualan bulan Februari 10% X Rp 200 = Rp 20
o   Piutang atas penjualan bulan Februari 70% X Rp 300 = Rp 210, dikurangi 3% X Rp 210 = Rp 6,30 = Rp 203,70
o   Terkumpul dalam waktu 10 hari terakhir, 20% X Rp 300 = Rp 60
o   Jadi dalam bulan Maret, piutang terkumpul = Rp 20 + Rp 203,70 + Rp 60 = Rp 283,70


4.      Kebijakan Kredit (Credit Policy)

Keberhasilan perusahaan ditentukan oleh banyak faktor antara lain kualitas produk, harga yang kompetitif, distribusi yang cepat, promosi, pelayanan purna jual, kebijakan kredit, dan lain-lain. Berikut ini disajikan contoh kasus:

Kasus PT Lesmana: kebijkan lama: potongan tunai 3% untuk pembayaran sampai dengan 7 hari (3/7).Rata-rata Pengumpulan piutang 30 hari, pembeli yang memanfaatkan potongan tunai 15%, piutang tak tertagih (bad debt) 2% dari penjualan kredit (credit sales). Penjualan selama satu tahun 1.500 @ Rp 5, VC Rp 2,3, biaya modal diperhitungkan 22% per tahun.

Kebijakan baru: perjanjian kredit penjualan (term of sales) adalah 4/15, potongan tunai 4% bagi yang melakukan pembayaran sampai dengan 15 hari. Rata-rata pengumpulan piutang 40 hari. Yang memanfaatkan potongan tunai bertambah menjadi 25% dan penjualan meningkat 20%, tambahan tenaga penjual 3 orang dengan gaji per bulan Rp1,7 per bulan per orang, piutang tak tertagih (bad debt) 3%. Apakah perusahaan mempertahankan kebijakan lama atau baru? Solusi kasus PT Lesmana tersebut dapat disajikan dalam tabel 6.3.

Keterangan tabel 6.3:
o   *Marjin kontribusi = [1 – (2,3 / 5)] = 54%
o   Perhitungan Laba (rugi) atas kebijakan baru:
o   Tambahan marjin kontribusi = (Rp 4.860 – Rp 4.050)        = Rp 810,00
o   Tambahan biaya modal = (Rp 75,9 – Rp 53,7625)                              = (Rp 22,14)
o   Tambahan piutang tak tertagih = (Rp 202,5 – Rp 127,5)    = (Rp 75,00)
o   Tambahan potongan tunai  = (Rp 90 – Rp 33,75)                                = (Rp 56,25)
o   Gaji tenaga penjual                                                    = (Rp 61,20)
o   Tambahan Laba                                                          = Rp 595,41

Kesimpulan: Kebijakan baru adalah layak dijalankan karena ada tambahan laba sebesar Rp 595,41.

Tabel 6.3
Solusi Kasus PT Lesmana

Keterangan
Kebijakan Lama
Kebijakan Baru
Penjualan
Piutang

Tunai
Perputaran (Turnover)
Rata-rata Piutang

Investasi pada
piutang
Biaya Modal

Piutang Tak Tertagih
(bad debt)
Potongan Tunai
(cash discount)
Marjin Kontribusi*

Gaji tenaga penjual
Rp 7.500
85% X 7.500 =
Rp 6.375
Rp 1.125
360/30 = 12X
Rp 6.375/12 =
Rp 531,25
46% X Rp 531,25 =
Rp 244,375
22% X Rp 244,375 =
Rp 53,7625
2% X Rp 6.375 =
Rp 127,5
3% X Rp 1.125 =
Rp 33,75
54% X Rp 7.500 =
Rp 4.050
(1+20%)(7.500) = Rp 9.000
75% X 9.000 = Rp 6.750

Rp 2.250
360/40  = 9X
Rp 6.750/9 = Rp 750

46% X Rp 750 = Rp 345

22% X Rp 345 = Rp 75,9

3% X Rp 6.750 = Rp 202,5

4% X Rp 2.250 = Rp 90

54% X Rp 9.000 =Rp 4.860

3 X 12 X Rp 1,7 = Rp 61,2




readmore »»  

etika manajerial dan bidang manajemen

     Etika manajerial
      Etika manajerial adalah standar prilaku yang memandu manajer dalam pekerjaan mereka. Ada tiga kategori klasifikasi menurut Ricky W. Griffin:
  • Perilaku terhadap karyawan
  • Perilaku terhadap organisasi
  • Perilaku terhadap agen ekonomi lainnya
    Bidang manajemen
  • Manajemen pergantian
  • Manajemen komunikasi
  • Manajemen constraint
  • Manajemen biaya 
  • Manajemen hubungan pelanggan
  • Manajemen harga pendapatan
  • Manajemen enterprise
  • Manajemen fasilitas 
  • Manajemen integrasi
  • Manajemen pengetahuan
  • Manajemen pemasaran
  • Manajemen mikro
  • Manajemen sakit
  • Manajemen pandangan
  • Manajemen procurement
  • Manajemen program
  • Manajemen projek
  • Manajemen proses
  • Manajemen produksi
  • Manajemen kualitas
  • Manajemen sumber daya manusia
  • Manajemen risiko
  • Manajemen keahlian
  • Manajemen pengeluaran
  • Manajemen rantai suplaiManajemen sistem
  • Manajemen waktu
  • Manajemen stress  
  • Manajemen strategis
  • Manajemen keuangan  
  • Manajemen personalia
  • Manajemen organisasi Manajemen Pertunjukan
  • Manajemen Persiapan dan Pelaksanaan
readmore »»